Khutbah Jumat Kontemporer
Menjaga Istiqamah di Era Digital
Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Sebagai khatib, saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian, marilah kita terus berupaya meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan yang tidak hanya kita tunjukkan saat berada di tempat yang ramai, tetapi juga ketakwaan yang tetap menghujam di dalam dada ketika kita sedang sendirian.
Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Hari ini, kita hidup di sebuah masa yang sangat berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Kita berada di era digital, era di mana dunia seolah menyusut dan berada di dalam genggaman tangan kita. Melalui sebuah benda kecil bernama smartphone atau ponsel pintar, kita bisa mengakses apa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Kemajuan teknologi ini adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia bisa menjadi ladang pahala yang luar biasa. Melalui ponsel, kita bisa membaca Al-Qur’an, mendengarkan ceramah agama, menyebarkan kebaikan, dan menyambung tali silaturahmi. Namun di sisi lain, jika kita tidak hati-hati, benda kecil ini bisa menjadi pintu gerbang paling cepat menuju kemaksiatan dan kebinasaan amal kita.
Oleh karena itu, tema khutbah kita pada siang hari ini adalah tentang: “Menjaga Istiqamah di Era Digital.”
Jamaah yang dirahmati Allah,
Tantangan untuk tetap istiqamah di zaman sekarang ini jauh lebih berat. Jika dahulu, untuk melakukan sebuah maksiat, seseorang harus keluar rumah dan mungkin merasa malu karena dilihat oleh tetangga atau orang lain. Namun hari ini, di era digital, maksiat bisa dilakukan di dalam kamar yang terkunci rapat, dalam kondisi lampu yang mati, di atas tempat tidur, tanpa ada satu pun manusia yang tahu.
Layar ponsel kita bisa menjadi saksi bisu bagaimana runtuhnya benteng keimanan seseorang ketika ia sendirian. Di sinilah letak ujian keimanan yang sesungguhnya. Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan dalam sebuah hadis yang mendalam:
Sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Ya Rasulullah, sebutkanlah ciri-ciri mereka kepada kami agar kami tidak menjadi seperti mereka!” Rasulullah ﷺ menjawab:
“Mereka adalah saudara-saudara kalian, kulit mereka sama dengan kulit kalian, dan mereka hidup menghidupkan malam (beribadah) sebagaimana kalian. Namun, mereka adalah kaum yang jika sendirian dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya.” (HR. Ibnu Majah).
Astaghfirullahal ‘adzim… Hadis ini adalah tamparan keras bagi kita semua. Betapa banyak dari kita yang tampak saleh di hadapan manusia, tampak bijak di media sosial, namun ketika layar ponsel menyala di malam hari dan tidak ada orang yang melihat, kita justru melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.
Jamaah Shalat Jum’at yang dirahmati Allah,
Lantas, bagaimana cara kita menjaga istiqamah di era yang penuh fitnah digital ini?
-
Pertama: Hadirkan Sifat Muraqabah (Merasa Selalu Diawasi Allah)
Kita harus menanamkan keyakinan di dalam hati bahwa sekecil apa pun ketikan kita, sejauh apa pun kita menggeser (scrolling) layar ponsel, dan sedalam apa pun kita menyembunyikan riwayat pencarian kita di internet, Allah SWT Maha Melihat dan Maha Mengetahui. Allah SWT berfirman dalam Surah Qaf ayat 18:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).”Ayat ini tidak hanya berlaku untuk ucapan lisan, tetapi juga berlaku untuk setiap komentar yang kita tulis di media sosial, setiap status yang kita bagikan, dan setiap video yang kita tonton.
-
Kedua: Ingatlah Bahwa Jemari Kita Akan Bersaksi
Jejak digital di dunia mungkin bisa kita hapus dengan fitur delete atau menghapus history. Namun, jejak digital di hadapan Allah tidak akan pernah bisa dihapus kecuali dengan tobat nasuha. Kelak di hari kiamat, mulut kita akan dikunci, dan jemari yang hari ini kita gunakan untuk memegang ponsel akan berbicara memberikan kesaksian. Allah SWT berfirman dalam Surah Yasin ayat 65:
الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”Bayangkan, jemaah sekalian, bagaimana jika tangan kita bersaksi di hadapan Allah: “Ya Allah, tangan ini yang dahulu digunakan untuk membuka situs maksiat, tangan ini yang dahulu mengetik fitnah dan mencaci maki orang lain di media sosial.” Na’udzubillah min dzalik.
- Ketiga: Jadikan Gawai sebagai Ladang Amal, Bukan Ladang Dosa Mari kita ubah algoritma media sosial kita. Jika selama ini yang muncul adalah hal-hal yang melalaikan, mulailah mencari dan mengikuti akun-akun dakwah, tontonan yang bermanfaat, dan ilmu pengetahuan. Jadikan ponsel kita sebagai saksi kebaikan yang akan membela kita di hadapan Allah, bukan justru memberatkan timbangan keburukan kita.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Menjadi orang yang istiqamah di era digital memang terasa asing dan berat. Namun ingatlah janji Rasulullah ﷺ bahwa orang-orang yang teguh memegang agamanya di tengah kondisi yang rusak akan mendapatkan pahala yang luar biasa, mereka itulah Al-Ghuraba (orang-orang yang asing) yang beruntung.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga hati kita, menjaga pandangan kita, dan menjaga jemari kita dari segala bentuk kemaksiatan digital, serta menggolongkan kita ke dalam hamba-hamba-Nya yang istiqamah hingga akhir hayat.