ANJANGSANA DAN BUKBER KUA LARANGAN

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti acara buka bersama KUA Larangan yang digelar pada Jumat, 27 Februari 2026, di Resto Plappa Ghenna’, Jl. Raya Sumenep. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh staf dan pegawai KUA Larangan dalam nuansa sederhana namun sarat makna.

Sejak menjelang maghrib, para pegawai tampak bercengkerama akrab. Tidak ada sekat jabatan, semua larut dalam suasana kebersamaan yang hangat. Momentum Ramadan benar-benar dimanfaatkan untuk mempererat tali silaturahim di lingkungan kerja.

Sambutan Santai Kepala KUA

Dalam sambutannya yang ringan namun menyentuh, Mudenar selaku Kepala KUA Larangan menyampaikan bahwa kegiatan buka bersama ini bukan sekadar agenda tahunan.

“Selain untuk mempererat silaturahim, saya juga mohon doa panjenengan semua,” ujarnya dengan nada santai namun penuh harap. “InsyaAllah dalam waktu dekat saya akan berangkat umroh ke tanah suci. Semoga diberi kelancaran, kesehatan, dan kembali membawa keberkahan untuk kita semua.”

Ia juga dengan rendah hati menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh jajaran.

“Selama saya memimpin KUA Larangan, tentu banyak kekurangan dan kesalahan. Baik dalam kebijakan, ucapan, maupun sikap. Di kesempatan yang baik ini, saya mohon dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” ungkapnya tulus.

Suasana pun sejenak hening, lalu diiringi anggukan dan doa dari para hadirin. Beberapa pegawai tampak terharu mendengar ungkapan tersebut.

Kebersamaan Tanpa Sekat

Acara berlangsung sederhana: buka puasa bersama, dilanjutkan makan malam dan obrolan santai antarpegawai. Namun justru dalam kesederhanaan itulah terasa kekuatan kebersamaan. Canda ringan antarstaf membuat suasana semakin cair.

Tidak ada pembicaraan formal yang kaku. Yang ada justru cerita-cerita ringan, pengalaman pelayanan masyarakat, hingga kenangan kebersamaan selama bertugas di KUA Larangan.

Kesan dari Penyuluh Agama Islam

Fakhri, salah satu Penyuluh Agama Islam KUA Larangan, menyampaikan kesan positifnya terhadap acara tersebut.

“Menurut saya ini bukan sekadar bukber biasa,” tuturnya. “Ada nilai kekeluargaan yang kuat. Kita tidak hanya makan bersama, tapi juga saling menguatkan dan mendoakan.”

Ia juga menilai momen permohonan maaf dan pamit umroh dari Kepala KUA menjadi titik refleksi bersama.

“Beliau memberi contoh keteladanan. Rendah hati, terbuka, dan mengajak kita semua untuk memperbaiki niat dalam bekerja. Semoga perjalanan umrohnya membawa keberkahan, dan kebersamaan seperti ini terus terjaga,” tambahnya.

Menjelang akhir acara, doa bersama dipanjatkan untuk keselamatan perjalanan umroh Mudenar serta keberkahan bagi seluruh keluarga besar KUA Larangan.

Di tengah kesibukan pelayanan masyarakat, malam itu menjadi jeda yang menenangkan—menguatkan silaturahim, menyatukan hati, dan meneguhkan kembali semangat pengabdian.

editor: matashona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top