
Langit pagi di Desa Trasak tampak lebih cerah dari biasanya. Rabu, 4 Maret 2026, halaman MTs. Miftahul Huda dipenuhi semangat para siswa dan siswi yang menyambut sebuah kegiatan istimewa dari KUA Larangan.
Mengusung tema “THE MOST KUA (Move for Sakinah Maslahat)” dengan tajuk besar “Joyful Ramadhan Mubarak”, kegiatan ini menjadi oase pengetahuan sekaligus siraman ruhani bagi generasi muda. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum menata hati, menyiapkan masa depan, dan menumbuhkan visi keluarga sakinah sejak dini.
Menanam Visi, Merawat Generasi
Dalam sambutannya, Holis Hendri, Penyuluh Agama Islam yang mewakili Kepala KUA Larangan, menyampaikan bahwa program ini hadir bukan hanya sebagai seremonial Ramadhan, melainkan gerakan sadar membangun peradaban dari bangku sekolah.
“THE MOST KUA adalah ikhtiar kami untuk bergerak bersama—move together—mewujudkan keluarga sakinah yang maslahat. Anak-anakku sekalian, kalian adalah calon pemimpin keluarga. Ramadhan ini saatnya belajar bukan hanya tentang ibadah pribadi, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial dan masa depan rumah tangga,” tuturnya penuh hangat.
Ia menekankan bahwa pembinaan remaja menjadi prioritas, agar mereka tumbuh dengan pemahaman yang matang tentang pernikahan, akhlak, serta kesiapan mental dan spiritual. “Keluarga yang kuat lahir dari pribadi yang kuat. Dan pribadi yang kuat dibentuk sejak remaja,” imbuhnya, disambut anggukan dan tepuk tangan para peserta.
Tips Memilih Pasangan & Jurus Menaklukkan Calon Mertua
Suasana semakin hidup saat sesi pemaparan materi oleh Mohammad Taufik, Penyuluh Agama Islam yang dikenal komunikatif dan penuh humor. Dengan gaya santai namun berbobot, ia membedah tema yang membuat para siswa tersenyum penasaran: Tips Jitu Memilih Pasangan Ideal dan Jurus Menaklukkan Calon Mertua.
“Memilih pasangan itu bukan seperti memilih foto profil,” candanya, disambut tawa riang. “Yang pertama dilihat bukan hanya rupa, tapi agama dan akhlaknya. Nabi sudah memberi panduan. Kalau agamanya baik, insyaAllah lainnya akan mengikuti.”
Ia memaparkan beberapa kriteria penting:
- Agama dan akhlak sebagai fondasi utama
- Visi hidup yang sejalan
- Kemampuan komunikasi yang sehat
- Kesiapan mental dan tanggung jawab
Lalu dengan gaya lebih cair, ia membahas “jurus menaklukkan calon mertua.”
“Caranya sederhana tapi sering dilupakan: hormat, sopan, dan bukti kesungguhan. Calon mertua itu bukan untuk ditaklukkan dengan rayuan, tapi diyakinkan dengan keseriusan,” ujarnya.
Menurutnya, membangun hubungan baik dengan keluarga pasangan adalah cermin kedewasaan. “Jangan hanya mencintai anaknya, tapi hormati orang tuanya. Di situlah letak keberkahan.”
Materi yang awalnya terdengar serius berubah menjadi dialog interaktif. Para siswa antusias bertanya, bahkan beberapa mengaku baru pertama kali mendapatkan materi pra-nikah yang dikemas dengan bahasa ringan dan relevan dengan dunia remaja.
Kesan yang Membekas
Fatur M. Ramadhan, salah satu siswa, mengaku terkesan dengan pendekatan yang digunakan para pemateri.
“Saya kira tadi cuma ceramah biasa. Ternyata seru dan membuka wawasan. Saya jadi paham kalau memilih pasangan itu bukan soal perasaan saja, tapi juga tanggung jawab dan kesiapan,” ungkapnya.
Sementara itu, Siska Agustin, siswi kelas akhir, merasa kegiatan ini memberikan perspektif baru tentang masa depan.
“Biasanya kita mikirnya nikah itu masih jauh. Tapi ternyata persiapannya dari sekarang. Saya jadi ingin memperbaiki diri dulu sebelum berharap dapat pasangan yang baik,” tuturnya dengan senyum optimis.
Ramadhan yang Lebih Bermakna
Giat KUA Larangan ini menjadi bukti bahwa Ramadhan bisa diisi dengan kegiatan edukatif yang membumi namun sarat makna. Di antara lantunan doa dan semangat belajar, terselip harapan besar: lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam merencanakan kehidupan berkeluarga.
“Joyful Ramadhan Mubarak” bukan sekadar slogan. Ia menjelma menjadi gerakan sadar—bahwa membangun sakinah dan maslahat dimulai dari langkah kecil hari ini.
Dan di halaman MTs. Miftahul Huda yang sederhana itu, benih-benih peradaban sedang ditanam, perlahan namun pasti.

editor: matashona