ANJANGSANA

Suasana hangat masih terasa selepas adzan Isya berkumandang di Resto Plappa Ghenna’, Jumat malam (27/2/2026). Meja-meja mulai lengang, tapi satu sudut tetap hidup oleh obrolan renyah tiga sahabat: Ainullah, Cak Adim, dan Bung Fakhri.

Usai buka bersama, mereka tak langsung beranjak. Teh hangat yang tersisa di gelas justru menjadi saksi percakapan yang pelan, santai, tapi sarat makna.

Ayah Baru, Ilmu Baru

Adim membuka obrolan dengan senyum yang tampak lebih matang dari biasanya. Maklum, statusnya kini naik pangkat: ayah baru.

“Cak, ternyata jadi ayah itu bukan cuma soal gendong bayi,” ujarnya sembari terkekeh kecil. “Ini soal begadang level internasional.”

Ainul tertawa, menimpali, “Begadangmu sekarang bukan nonton bola lagi, tapi nonton bayi tidur, ya?”

Adim mengangguk mantap. “Dan anehnya, kalau bayinya tidur, kita malah curiga. ‘Kok diam? Napasnya aman?’ Setiap lima menit dicek.”

Di balik canda, terselip cerita tentang kondisi sang istri pasca melahirkan. Adim mengisahkan bagaimana fase pemulihan itu mengajarkannya arti sabar dan empati yang lebih dalam.

“Baru sekarang saya benar-benar paham betapa luar biasanya perjuangan ibu,” katanya lebih pelan. “Kadang istri terlihat kuat, tapi tetap butuh ditemani, didengarkan.”

Ainul mengangguk setuju. “Nah, itu. Jadi ayah itu bukan cuma cari susu, tapi juga jadi penenang suasana. Minimal jangan ikut panik.”

“Masalahnya,” sahut cak Adim cepat, “yang sering panik itu justru bapaknya!”

Mereka pun tertawa lepas.

Menanti Giliran

Bung Fakhri yang sejak tadi menyimak sambil tersenyum, akhirnya ikut bersuara. Wajahnya memancarkan campuran bahagia dan tegang.

“Doakan saja, sebentar lagi saya menyusul,” katanya ringan. “Istri sudah masuk hitungan hari.”

Ainul langsung menyergah, “Sudah latihan begadang belum, Bung?”

“Sudah,” jawab Fakhri mantap. “Tiap malam saya bangun… tapi buat cek tas persiapan ke rumah sakit. Takut ada yang ketinggalan.”

Adim menepuk bahunya. “Tenang, Bung. Nanti setelah lahir, yang sering ketinggalan itu bukan tas. Tapi waktu tidur.”

Suasana kembali riuh oleh tawa.

Namun di sela gurauan, Fakhri berujar lebih dalam, “Saya kadang berpikir, anak itu bukan cuma amanah, tapi juga cermin. Kita akan belajar dari dia, bahkan sejak hari pertama.”

Cak Ainul menimpali dengan gaya khasnya, “Betul. Anak itu seperti alarm kehidupan. Bunyinya tak bisa di-snooze.”

“Dan tidak ada tombol off,” tambah Adim cepat.

Renyah yang Menguatkan

Obrolan malam itu mengalir tanpa beban. Dari cerita tentang popok, imunisasi, hingga perdebatan kecil soal siapa yang lebih dulu bangun ketika bayi menangis. Semua dibalut dengan tawa yang jujur.

Di antara mereka, tak ada nasihat panjang menggurui. Hanya pengalaman yang dibagi, kekhawatiran yang ditertawakan, dan harapan yang saling diaminkan.

Malam di Jalan Raya Sumenep kian larut. Lampu-lampu restoran mulai diredupkan. Tiga sahabat itu akhirnya berdiri, bersalaman hangat.

“Semoga anak-anak kita jadi penyejuk mata,” ucap Fakhri.

“Aamiin,” sahut cak Adim.

Cak Ainul menutup dengan celetukan terakhir, “Dan semoga bapaknya tetap waras.”

Tawa pun pecah sekali lagi.

Di tengah kesederhanaan bukber dan obrolan santai, tersimpan satu hal yang tak sederhana: persahabatan yang menguatkan, dan peran sebagai ayah yang perlahan membentuk mereka menjadi lelaki yang lebih utuh.

editor: matashona

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top